KARYA TULIS
PENTINGNYA KESADARAN
DALAM PERSPEKTIF GLOBAL
UNTUK SYARAT MEMENUHI
MATA KULIAH
“PERSPEKTIF GLOBAL”
Oleh
IHSAN RAMADAN
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
JURUSAN PENDIDIKAN
DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2011
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahhirrobbil’alamiin,
segala puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah menolong
hamba-Nya menyelesaikan karya tulis ini dengan penuh kemudahan. Tanpa
kesuliatan yang berarti.
Karya
tulis ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang pentingnya
perspektif global yang saya sajikan berdasarkan pengamatan dari berbagai
sumber. Karya tulis ini di susun oleh penyusun dengan berbagai rintangan. Baik
itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari luar. Namun dengan
penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari ALLAH akhirnya karya tulis ini
dapat terselesaikan.
Semoga
karya tulis ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan bermanfaat bagi
pembaca. Karya tulis ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Penyusun mohon
saran dan kritiknya untuk perbaikan di masa yang akan datang. Terima kasih.
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR i
DAFTAR
ISI ii
BAB
I PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penulisan 1
BAB
II ISI 2
Pengertian Globalisasi 2
Arti Pentingnya
Globalisasi Bagi Indonesia 3
PENDIDIKAN GLOBAL 3
TRANSFORMASI PENDIDIKAN
DALAM PERSPEKTIF GLOBAL 4
GEOGRAFI DALAM
PERSPEKTIF GLOBAL 6
BAB
III KESIMPULAN 9
DAFTAR PUSTAKA 10
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan
di Indonesia menjadi masalah pada saat ini. Peningkatan
kualitas pendidikan bagi suatu bangsa, bagaimanapun mesti diprioritaskan. Sebab
kualitas pendidikan sangat penting artinya, karena hanya manusia yang berkualitas
saja yang bisa bertahan hidup di masa depan. Salah satu cara yang dapat
dilakukan untuk peningkatan kualitas pendidikan tersebut adalah dengan
pengelolaan pendidikan dengan wawasan global.
1.2
Tujuan
Penulisan
Adapun
tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah sebagai wahana untuk introspeksi
diri agar masyarakat sadar akan pentingnya pendidikan pada saat ini, terutama
pendidikan yang berwawasan global.
BAB II
ISI
2.1 Pengertian Globalisasi
Theodore
Levitte merupakan orang yg pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada
tahun 1985. Peter Drucker menyebutkan
globalisasi sebagai zaman transformasi sosial.
Beberapa pengertian mengenai
globalisasi berikut ini :
1.
Globaliasi dapat diartikan sebagai
proses masuknya keruang lingkup dunia.
2.
Globalisasi adalah sebuah perubahan
sosial, berupa bertambahnya keterkaitan di antara dan elemen-elemennya yang
terjadi akibat dan perkembangan teknologi di bidang transportasi dan komunikasi
yang memfasilitasi pertukaran budaya dan ekonomi internasional.
3.
Globalisasi adalah proses, di mana
berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan dunia yang satu dapat
membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu dan masyarakat di belahan
dunia yang lain.
4.
Globalisasi adalah proses
meningkatnya aliran barang, jasa, uang dan gagasan melintasi batas-batas
negara.
5.
Globalisasi adalah proses di mana
perdagangan, informasi dan budaya semakin bergerak melintasi batas negara.
6.
Globalisasi adalah meningkatnya
saling keterkaitan di antara berbagai belahan dunia melalui terciptanya proses
ekonomi, lingkungan, politik, dan pertukaran kebudayaan.
7.
Globalisasi merupakan gerakan menuju
terciptanya pasar atau kebijakan yang melintasi batas nasional.
Sartono
Kartodirjo berpendapat bahwa proses globalisasi sebenarnya merupakan gejala
sejarah yang telah ada sejak jaman prasejarah. Beberapa contoh antara lain
bangsa-bangsa dari Asia ke Eropa, ke Amerika, dari Asia ke Nusantara, dan
lain-lain. Berdasarkan tinjauan sejarah, Indonesia sebenarnya telah lama
mengalami proses globalisasi.
2.2 Arti
Pentingnya Globalisasi bagi Indonesia
Globalisasi
memiliki arti penting bagi bangsa Indonesia yang sedang membangun yaitu dengan
mengambil manfaat dari kemajuan-kemajuan yang telah dicapai oleh bangsa atau
negara lain, untuk diterapkan di Indonesia. Sudah barang tentu tidak semua
kemajuan yang dialami bangsa lain akan kita ambil atau kita tiru begitu saja.
Indonesia seharusnya hanya akan mengambil kemajuan dari sisi positifnya saja,
baik itu kemajuan di bidang ekonomi, politik, sosial, budaya, maupun teknologi.
Untuk itu
nilai-nilai Pancasila harus kita gunakan sebagai penyaring dari nilai yang
diambil, karena nilai-nilai Pancasila sesuai dengan situasi dan kondisi dari
bangsa Indonesia. Pancasila bersumber dari agama dan adat istiadat yang digali
dari bumi Indonesia.
2.3
PENDIDIKAN GLOBAL
Peningkatan
kualitas pendidikan bagi suatu bangsa, bagaimanapun mesti diprioritaskan. Sebab
kualitas pendidikan sangat penting artinya, karena hanya manusia yang
berkualitas saja yang bisa bertahan hidup di masa depan. Salah satu cara yang
dapat dilakukan untuk peningkatan kualitas pendidikan tersebut adalah dengan
pengelolaan pendidikan dengan wawasan global. Apa pentingnya wawasan
ber-perspektif global dalam pengelolaan pendidikan?
Perspektif
global merupakan pandangan yang timbul dari kesadaran bahwa dalam kehidupan ini
segala sesuatu selalu berkaitan dengan isu global. Orang sudah tidak
memungkinkan lagi bisa mengisolasi diri dari pengaruh global. Manusia merupakan
bagian dari pergerakan dunia, oleh karena itu harus memperhatikan kepentingan
sesama warga dunia. Tujuan umum pengetahuan tentang perspektif global adalah
selain untuk menambah wawasan juga untuk menghindarkan diri dari cara berpikir
sempit, terkotak oleh batas-batas subyektif, primordial (lokalitas) seperti
perbedaan warna kulit, ras, nasionalisme yang sempit, dsb.
Dengan
demikian pentingnya (urgensi) wawasan perspektif global dalam pengelolaan
pendidikan ialah sebagai langkah upaya dalam peningkatan mutu pendidikan
nasional. Hal ini dikarenakan seperti yang telah dituliskan sebelumnya, dengan
wawasan perspektif global kita dapat menghindarkan diri dari cara berpikir
sempit dan terkotak-kotak oleh batas subyektif sehingga pemikiran kita lebih
berkembang. Kita dapat melihat sistem pendidikan di negara lain yang telah maju
dan berkembang. Serta dapat membandingkannya dengan pendidikan di negara kita,
mana yang dapat diterapkan dan mana yang sekerdar untuk diketahui saja. Kita
bisa mencontoh sistem pendidikan yang baik di negara lain selama hal itu tidak
bertentangan dengan jati diri bangsa Indonesia. Tentu kita masih ingat dulu
ketika Malaysia mengimpor guru-guru dari Indonesia untuk mendidik anak-anak
mereka. Namun kini justru Malaysia-lah yang lebih maju pendidikannya dari
negara kita. Apa yang salah? Kalau boleh dikatakan, bahwa mereka mau belajar
dan mempelajari serta terus meningkatkan kualitas pendidikan mereka. Salah
satunya yaitu dengan melihat kondisi di sekitarnya (negara lain, Indonesia).
Dengan
demikian wawasan ber-perspektif global sangatlah penting dalam pengelolaan
pendidikan. Penerapan Pengelolaan Pendidikan dengan Wawasan Ber-Perspektif
Global di Indonesia.
2.4 TRANSFORMASI
PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF GLOBAL
Problematika
pendidikan Indonesia dewasa ini saling timpang tindih. Hal ini seiring dengan
konteks zamannya dan hingga sekarang masih diyakini sebagai aspek penting
kehidupan bangsa untuk dijadikan strategi dalam mengangkat derajat manusia
Indonesia melalui pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada. Meskipun
hingga kini dunia pendidikan kita dililiti persoalan-persoalan yang dilematis
dan belum terselesaikan secara menyeluruh.
Mengingat
fenomena masyarakat dewasa ini yang tidak terlepas dari kehidupan masyarakat
global dengan segala tantangan perkembangan zaman. Oleh karena itu, penting
kiranya dunia pendidikan perlu melaksanakan kontekstualisasi dalam upaya
transformasi untuk merevitalisasikan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terkover
dalam dunia pendidikan kita.
Kedatangannya,
arus global menjadi pergulatan sengit pendidikan kita yang menjadi genting
untuk terbawa arus tersebut. Realitannya, globalisasi bisa menjadikan Sumber
Daya Manusia (SDM) tinggi dan juga bisa menjadikan Sumber Daya Manusia (SDM)
rendah. Semakin seorang kuat keinginannya, semakin mudah jalannya karena
globalisasi. Sebagaimana bangsa Indonesia tentu sudah sepantasnya memiliki rasa
tanggung jawab terhadap masa depan generasi (anak bangsa) sehingga mereka mampu
membentengi diri dalam menghadapi globalisasi dan membawanya kepeningkatan
Sumber Daya Manusia (SDM).
Saat
ini, coba kita ingat kembali bahwa transformasi kurikulum kita dari CBSA hingga
KTSP merupakan perwujudan dari transformasi. Hal ini untuk menciptakan peserta
didik agar memiliki kesadaran kritis dalam melihat kenyataan-kenyataan dalam
kehidupan global dengan memperhatikan nilai-nilai humanis yang ada.
Orientasinya, bukan kecerdasan semata, atau keterampilan saja namun diarahkan siap
menghadapi persoalan-persolan global yang menjadi persoalan umat manusia.
Secara
signifikan, posisi pendidikan menempati model pendidikan yang dilakukan secara
sadar dan terencana dengan baik dalam mewujudkan suasana belajar dalam proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi yang
dimilikinya sesuai dengan konteks zaman yang dihadapinya. Katakan saja,
Pendidikan Transformatif mengajarkan pendidikan yang tidak bersifat stagnasi
(kemandekan).
Sebagai
langkah strategis, dunia pendidikan harus melakukan rekonstruksi pemikiran
menuju pemikiran yang lebih transformatif dan berwawasan global, yakni sebuah
pemikiran yang mampu membaca kondisi riil masyarakat di dunia global saat ini
yang di antaranya peluang dan tantangannya dalam keberlangsungan hidup manusia
serta mampu mengambil sikap yang berwawasan masa depan dengan tetap mengawali
nilai-nilai humanis dalam pendidikan.
Selanjutnya,
dalam konteks pendidikan kritis peserta didik dibimbing supaya struktur sosial,
ekonomi, budaya, agama dan politik tidak diterima begitu saja, tetapi justru
dipersoalkan, pendidikan menolong peserta didik mengkritik kenyataan struktural
yang tidak adil. Perlu dipahami bahwa pendidikan kritis itu merupakan revolusi
teori dan praktik dalam pendidikan. Sedangkan pendidikan kritis memiliki ciri
umum yakni, adanya dialog antara pendidik dan peserta didik, kontruksi sosial
sebagai sumber ilmu pengetahuan, pendidikan sebagai pembebasan dari sebuah
sistem, dan pendidikan sebagai wujub perjuangan.
2.5
GEOGRAFI DALAM PERSPEKTIF GLOBAL
Dalam
kehidupan yang semakin berkembang, manusia sebagai pengembang dan pengaplikasi
ilmu pengetahuan terus mengalami tantangan. Tantangan tersebut tidak hanya
muncul karena kebutuhan yang semakin beragam dan komplek, tapi juga bumi
semakin terbatas daya dukungnya untuk menampung kehidupan itu sendiri.
Globalisasi
merupakan satu fakta yang tidak dapat dihindarkan, akibat dari kemajuan
pemikiran manusia. Karena itu merupakan suatu produk yang siap terdesiminasikan
tanpa batas waktu dan ruang, maka pengetahuan, wawasan, keterampilan, sikap dan
perilaku penerima perlu dipersiapkan agar tidak tercipta culurlag atau culturshock wahana
yang peling tepat untuk mensosialisasikan, memfilterisasi, dan mengantisipasi
berbagai produk globalisasi adalah pendidikan. Pendidikan geografi mempunyai
kemampuan untuk memberikan wawasan global tentang bangsa-bangsa didunia secara
terintegrasi antara aspek fisikal, sumber daya dan sosial budaya penduduknya
serta dinamikanya.
Globalisali
dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, khususnya bagi negara-negara yang
tidak siap, seperti negara-negara berkembang. Lagi pula nilai-nilai yang
bersifat lokalit yang telah hidup dan berkembang ratusan tahun dimasyarakat
mempunyai keunggulan dan keunikan dalam hal-hal tertentu. Karena itu
“glokalisasi” atau glocalization, yang berarti globalization with local
flavour, seyogiana digalakkan. Karena itu pula sekolah bersama-sama dengan
pendidikan informal dan nonformal menjadi sangat penting dalam memberikan
pemahaman indahnya keragaman, kelestarian keunikan dan keunggulan lokal.
Geografi tidak hanya memberikan wawasan global, tapi juga diimbangi dengan
mengenal potensi lokal secara terintegrasi, sehingga disamping mampu
memfilterisasi dampak negatif dari globalisasi juga dapat melestarikan
nilai-nilai keunggulanm lokalit suatu bangsa.
Bencana
atau peristiwa yang menyebabkan kerusakan khususnya kerusakan lingkungan telah
lama ada sejak jaman dulu, bahkan telah ada dengan seiring pembentukan bumi itu
sendiri. Namun peristiwa itu tidak banyak menimbulkan masalah selama terjadi
pada tempat yang tidak dihuni oleh manusia. Bencana alam dirasakan menjadi
sumber malapetaka, di saat menimpa tempat yang banyak penduduknya. Bencana baik
yang berupa alam maupun akibat ulah manusia banyak menimbulkan berbagai
penderitaan dan kerugian, karena itulah muncul pengelolaan penanganan bencana
atau yang lebih dikenal dengan mitigasi bencana.
Mitigasi
merupakan kewajiban berbagai pihak, baik itu para ahli, pemerintah, maupun
masyarakat secara luas. Pengenalan dan pemahaman bencana, proses terjadinya,
menilai tingkat bahaya merupakan pekerjaan para ahli seperti ahli gunung api,
hidrologi, klimatologi, kosmografi/astrologi, seismologi, tsunami, geografi,
dan sebagainya. Pemerintah mempunyai peran strategis untuk mendesiminasikan
pemahaman tersebut dan mengkoordinasikan penanggulangan bencana. Para ahli
lainnya, seperti ahli bangunan, antropolog, sosiolog, medis, pendidikan ilmu
kemasyarakatan lain mampu mengaplikasikan berbagai ilmunya untuk mengantisipasi,
mensosialisasikan dan merekayasa.
Mengingat
permukaan bumi sangat luas, fakta yang ada sangat banyak dan rumit, maka dalam
mengkaji fakta perlu alat atau media yang dapat memvisualkan dan
menyerdehanakan kenampakan tersebut. Karena itulah dibutuhkan peta atau alat
perekam data lainnya seperti foto udara, citra dan sebagainya. Tumpang susun
(overlay), peta, foto, atau citra memungkinkan suatu fakta dianalisis kaitannya
dengan fakta lain. Sistem Informasi Geografis (SIG) berbasis komputer sangat
memungkinkan data diolah dan ditampilkan untuk berbagai tujuan pembangunan.
Mempelajari permukaan bumi juga seringkali harus diikuti dengan
perjalanan-perjalanan, baik sebagai cara pembuktian suatu fakta maupun sebagai
penjajangan masalah keruangan.
Peran
suatu ilmu terus berkembang seiring dengan kebutuhan dan tantangan yang
dihadapi manusia. Sebagai ilmu yang cukup tua, peran Geografi terus ditantang
untuk lebih bermakna bagi kesejahteraan manusia dan kelestarian bumi,
memerlukan pemahaman yang terintegrasi antara aspek manusia dan alam sebagai
suatu kesatuan. Pandangan yang pragmatis atau parsial hanya akan menguntungkan
atau merugikan salah satu diantaranya
BAB III
3.1 KESIMPULAN
Meskipun
tergolong masalah yang klasik, peran suatu ilmu terus
berkembang seiring dengan kebutuhan dan tantangan yang dihadapi manusia. Oleh
karena itu, penting kiranya dunia pendidikan perlu melaksanakan
kontekstualisasi dalam upaya transformasi untuk merevitalisasikan Sumber Daya
Manusia (SDM) yang terkover dalam dunia pendidikan kita.
3.2
DAFTAR PUSTAKA
Tim
Pengembang Ilmu Pendidikan. (2007). ILMU
DAN APLIKASI PENDIDIKAN Bagian III: Pendidikan Disiplin Ilmu. Jakarta:
Grasindo.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar